Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti menyebut ekspor produk makanan dan minuman (food and beverage/F&B) Indonesia telah mencapai 6,25 miliar dolar AS, menempatkan Indonesia di posisi keempat negara ASEAN dengan nilai ekspor F&B terbesar.
Roro mengatakan capaian tersebut masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan, mengingat potensi industri makanan dan minuman Indonesia cukup besar untuk menembus pasar internasional.
“Saat ini kita ekspornya khusus untuk F&B berada di angka 6,25 miliar dolar AS dan kalau kita bandingkan dengan negara-negara lainnya, kebetulan kita peringkat keempat di antara negara-negara ASEAN,” ujar Roro di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (11/8).
Berdasarkan data yang disampaikan Roro, Thailand berada di posisi pertama dengan nilai ekspor F&B mencapai 17 miliar dolar AS. Posisi berikutnya ditempati Vietnam dengan 8,8 miliar dolar AS dan Singapura sebesar 6,5 miliar dolar AS.
Sementara Indonesia berada di posisi keempat dengan nilai ekspor sebesar US$6,25 miliar.
Menurut Roro, posisi tersebut menunjukkan produk F&B Indonesia memiliki daya saing di pasar regional. Namun, pemerintah menilai potensi ekspor masih dapat diperluas dengan memanfaatkan jaringan perdagangan Indonesia di berbagai negara.
Kementerian Perdagangan, kata dia, berupaya memfasilitasi pelaku usaha yang telah memiliki kesiapan untuk melakukan ekspansi ke pasar internasional.
“Kita bisa memfasilitasi seluruh pelaku usaha khususnya di sektor F&B ini untuk bisa penetrasi ke market internasional dengan jaringan yang kita miliki,” katanya.
Manfaatkan Jaringan Perdagangan
Kemendag memiliki jaringan perwakilan perdagangan di 33 negara melalui Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC).
Jaringan tersebut dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk mencari calon pembeli, memahami karakteristik pasar tujuan ekspor, serta memperluas akses produk Indonesia ke pasar internasional.
Roro menilai penguatan akses pasar menjadi penting agar peningkatan ekspor F&B tidak hanya bertumpu pada pasar tradisional, tetapi juga mampu menjangkau negara-negara dengan potensi permintaan yang besar.
Selain pasar umum, produk halal juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan, terutama di kawasan Timur Tengah.
Indonesia memiliki beragam produk makanan dan minuman yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen halal global. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekspor F&B nasional.
Diaspora Jadi Pasar Potensial
Di sisi lain, diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara juga dapat menjadi salah satu pasar potensial bagi produk makanan dan minuman asal Indonesia.
Keberadaan masyarakat Indonesia di luar negeri dapat membantu memperkenalkan produk F&B nasional sekaligus menjadi pintu masuk bagi produk Indonesia untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Sejumlah pelaku usaha dan restoran Indonesia juga telah mulai melakukan ekspansi ke pasar luar negeri. Perkembangan tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi peningkatan daya saing produk F&B nasional.
Pemerintah berharap semakin banyak pelaku usaha yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, memenuhi standar pasar internasional, serta memanfaatkan berbagai fasilitas dan jaringan perdagangan yang disediakan pemerintah.
Dengan nilai ekspor US$6,25 miliar dan posisi keempat di ASEAN, sektor F&B Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan kontribusinya terhadap kinerja perdagangan nasional.