Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar 3,70 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan surplus tersebut ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai 167,03 miliar dolar AS, atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 159,95 miliar dolar AS.
“Dari angka tersebut, ekspor kumulatif di periode itu tercatat 167,03 miliar dolar AS atau naik 4,43 persen secara tahunan,” kata Ateng dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Industri Pengolahan Jadi Penopang Ekspor
Berdasarkan sektor, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 dengan nilai mencapai 137,26 miliar dolar AS.
Sementara itu, ekspor dari sektor pertambangan dan lainnya tercatat sebesar 19,60 miliar dolar AS. Adapun sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 3,15 miliar dolar AS.
Kinerja tersebut menunjukkan sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor Indonesia.
Impor Tumbuh 19,94 Persen
Di sisi lain, nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 163,33 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Jika dilihat berdasarkan penggunaan, impor didominasi oleh bahan baku dan barang penolong dengan nilai 116,70 miliar dolar AS.
Selanjutnya, impor barang modal mencapai 32,46 miliar dolar AS, sedangkan barang konsumsi sebesar 14,16 miliar dolar AS.
Besarnya impor bahan baku dan barang penolong menunjukkan kebutuhan industri domestik terhadap input produksi masih menjadi komponen utama dalam aktivitas impor Indonesia.
Juli 2026 Surplus 120 Juta Dolar AS
Khusus pada Juli 2026, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus, meskipun nilainya relatif tipis, yakni sebesar 0,12 miliar dolar AS atau sekitar 120 juta dolar AS.
Pada bulan tersebut, nilai ekspor Indonesia mencapai 26,22 miliar dolar AS, tumbuh 6,05 persen secara tahunan.
Sementara itu, impor tercatat sebesar 26,09 miliar dolar AS, meningkat cukup tinggi, yakni 27,02 persen secara tahunan.
Untuk ekspor nonmigas Juli 2026, sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai 21,76 miliar dolar AS. Sektor pertambangan menyumbang 3,10 miliar dolar AS, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 0,57 miliar dolar AS.
Dari sisi penggunaan, impor Juli 2026 terdiri atas bahan baku dan barang penolong sebesar 18,76 miliar dolar AS, barang modal 5,10 miliar dolar AS, serta barang konsumsi 2,24 miliar dolar AS.
Dengan capaian tersebut, neraca perdagangan Indonesia masih mampu mempertahankan tren surplus hingga tujuh bulan pertama 2026, meskipun pertumbuhan impor tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor.