HomeEKONOMIKekeringan Ancam NTB, 62 Ribu Ton Beras Disiagakan

Kekeringan Ancam NTB, 62 Ribu Ton Beras Disiagakan

Perum Bulog NTB memastikan bahwa stok beras di wilayah NTB mencukupi hingga Maret 2025, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir atau melakukan panic buying dalam menghadapi musim kering dan potensi rawan pangan yang mungkin terjadi. Dengan ketersediaan stok yang terjamin, Bulog NTB optimis bahwa daerah ini mampu mengantisipasi dampak kekeringan dan menjaga ketahanan pangan.

Kekeringan saat ini sudah mulai melanda beberapa provinsi di Indonesia, dengan beberapa di antaranya telah menetapkan status siaga kekeringan. Pimpinan Wilayah (Pinwil) Perum Bulog NTB, Raden Guna Dharma, menyampaikan bahwa situasi ini bisa berdampak pada berkurangnya ketersediaan pangan di beberapa daerah. Namun, NTB berada dalam posisi yang lebih baik berkat persiapan yang dilakukan.

“Saya kemarin baca, Jogja sudah melakukan siaga nasional, siaga 1 rawan pangan. Jangan khawatir untuk NTB, sampai dengan saat ini stok kita sudah 62 ribu ton setara beras,” ujar Guna Dharma.

Untuk mengantisipasi kekeringan dan potensi rawan pangan, Bulog NTB tetap melakukan pengadaan gabah dan beras dari petani lokal. Meskipun harga gabah saat ini sudah naik, Bulog memilih menggunakan skema komersial untuk pembelian, guna memastikan kesejahteraan petani terjaga.

“Walaupun harga gabah sudah naik, tidak mungkin kita menggunakan HAP (Harga Acuan Pemerintah) atau HPP,” jelasnya.

Menurut Guna, jika menggunakan HAP atau HPP, harga tidak akan terkontrol dan bisa merugikan petani. Oleh karena itu, Bulog memilih untuk membeli dengan harga yang lebih tinggi sesuai mekanisme pasar.

“Hari ini harga gabah sudah hampir 7.500 per kg, tetap kita beli dengan skema komersial untuk cadangan stok kita di NTB,” tambah Guna.

Bulog NTB telah mengamankan stok beras sebanyak 62 ribu ton, yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Maret 2025. Selain itu, Bulog juga bertugas memastikan ketersediaan beras untuk program bantuan pangan, Stabilitas Harga Pangan (SPHP), dan operasi pasar.

“Masyarakat tidak perlu panik buying. Kami bersama Dinas Ketahanan Pangan (DKP) tetap melakukan operasi pasar setiap hari. Saya pikir NTB aman-aman saja,” tegas Guna. Ia juga menyampaikan harapannya agar NTB tidak perlu melakukan impor beras, karena stok yang ada sudah mencukupi.

Selain beras, Bulog NTB juga memiliki stok jagung yang cukup besar, mencapai 62 ribu ton. Pengadaan jagung ini merupakan program baru yang dilakukan pemerintah, khususnya di NTB, sementara provinsi lain tidak melakukan pengadaan serupa. Guna menyatakan bahwa pengadaan jagung ini merupakan langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan dan mendukung sektor peternakan di NTB.

“Saya pikir luar biasa NTB, jadi stok jagung hanya ada di NTB,” ujarnya.

Kebijakan Bulog NTB untuk membeli gabah dan beras dengan skema komersial diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi petani lokal. Dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan HAP atau HPP, petani bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik dari hasil panen mereka. Langkah ini juga diharapkan dapat mendorong petani untuk terus meningkatkan produksi mereka, terutama dalam menghadapi tantangan musim kering.

Bulog NTB juga terus berupaya untuk menyerap hasil panen petani pada musim panen berikutnya, guna menjaga ketersediaan stok pangan di NTB tetap aman. Dengan demikian, Bulog NTB tidak hanya berperan sebagai penjamin ketersediaan pangan, tetapi juga sebagai mitra bagi petani dalam menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan mereka.

Meskipun beberapa provinsi di Indonesia sudah mulai merasakan dampak kekeringan, Bulog NTB tetap optimis bahwa NTB mampu menghadapinya dengan baik. Dengan persiapan yang matang dan ketersediaan stok pangan yang mencukupi, NTB diharapkan tidak akan mengalami krisis pangan yang signifikan.

Guna juga mengapresiasi kerja sama yang baik antara Bulog NTB dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan para petani, dalam menjaga ketahanan pangan di NTB. Ia berharap, upaya-upaya yang telah dilakukan dapat terus berlanjut dan semakin diperkuat, sehingga NTB dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghadapi tantangan musim kering.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments