Metode jajar legowo sendiri sebenarnya merupakan kearifan lokal petani di Indonesia dengan melakukan sistem tanam berjarak dengan diselingi barisan kosong. Dengan metode ini akan memudahkan petani dalam melakukan pemupukan maupun penyiangan sekaligus memungkinkan rumpun padi berkembang lebih banyak.
Amran mengungkapkan metode jajar legowo ini dimodifikasi dengan sistem pertanian direct seeding yaitu penanaman bibit padi langsung tanpa melalui pembibitan konvensional seperti yang dilakukan pada pertanian padi pada umumnya. Dengan metode ini akan mempercepat masa tanam sekitar 2 Minggu untuk sekali tanam hingga panen.
“Dengan sistem ini, kita bisa menanam minimal tiga kali setahun, bahkan bisa sampai empat kali, karena tanam langsung tanpa pembenihan. Artinya, kita hemat waktu sekitar dua minggu per siklus tanam,” ujar Amran disela-sela peninjauan.
Amran mengungkapkan jajar legowo ini merupakan inovasi penting yang dikembangkan balai besar tersebut sejak 15 tahun lalu. Dari pengujian ini rata rata model tersebut bisa menghasilkan padi antara 8-12 ton per hektare.
Direct seeding sendiri merupakan metode penanaman benih padi langsung ke tanah tanpa melalui proses pembibitan terlebih dahulu. Dalam metode ini, benih ditanam langsung di lahan yang telah disiapkan, yang dapat menghemat waktu dan tenaga dalam proses tanam.
Dengan metode ini akan memberikan keuntungan bagi petani, mulai dari efisiensi waktu hingga peningkatan hasil panen.
“Walaupun hari libur, kami tetap turun untuk mengecek percobaan ini. Teknologi baru direct seeding ini bertujuan mengurangi biaya dan mempercepat tanam,” ucapnya.
“Kalau pertumbuhan tanamannya sebagus ini, kita bisa mencapai minimal 8 ton per hektare, syukur-syukur bisa sampai 10, 11, atau 12 ton,” tambah Mentan.
Teknologi itu juga akan diterapkan secara bertahap di berbagai daerah, terutama pada program cetak sawah dan optimasi lahan. Jika uji coba tersebut berhasil, lanjut Mentan, penerapannya akan diperluas untuk mendukung target swasembada pangan nasional.
“Ini kita terapkan nantinya di daerah – daerah cetak sawah dan Oplah (optimasi lahan) yang saat ini tengah kita kembangkan, kalau ini berhasil, kita akan mulai dari situ,” tutur Mentan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meninjau program cocok tanam dengan menggunakan metode jajar legowo di Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Padi Muara (B2PSIPM) Landbouw, Bogor, Jawa Barat, Minggu (23/03/2024). Mentan mengungkapkan dengan metode jajar legowo dan mekanisasi pertanian akan mempercepat musim tanam sehingga petani bisa panen hingga 4 kali dalam satu tahun sehingga secara otomatis produksi padi meningkat.
Metode jajar legowo sendiri sebenarnya merupakan kearifan lokal petani di Indonesia dengan melakukan sistem tanam berjarak dengan diselingi barisan kosong. Dengan metode ini akan memudahkan petani dalam melakukan pemupukan maupun penyiangan sekaligus memungkinkan rumpun padi berkembang lebih banyak.
Amran mengungkapkan metode jajar legowo ini dimodifikasi dengan sistem pertanian direct seeding yaitu penanaman bibit padi langsung tanpa melalui pembibitan konvensional seperti yang dilakukan pada pertanian padi pada umumnya. Dengan metode ini akan mempercepat masa tanam sekitar 2 Minggu untuk sekali tanam hingga panen.
“Dengan sistem ini, kita bisa menanam minimal tiga kali setahun, bahkan bisa sampai empat kali, karena tanam langsung tanpa pembenihan. Artinya, kita hemat waktu sekitar dua minggu per siklus tanam,” ujar Amran disela-sela peninjauan.
Amran mengungkapkan jajar legowo ini merupakan inovasi penting yang dikembangkan balai besar tersebut sejak 15 tahun lalu. Dari pengujian ini rata rata model tersebut bisa menghasilkan padi antara 8-12 ton per hektare.
Direct seeding sendiri merupakan metode penanaman benih padi langsung ke tanah tanpa melalui proses pembibitan terlebih dahulu. Dalam metode ini, benih ditanam langsung di lahan yang telah disiapkan, yang dapat menghemat waktu dan tenaga dalam proses tanam.
Dengan metode ini akan memberikan keuntungan bagi petani, mulai dari efisiensi waktu hingga peningkatan hasil panen.
“Walaupun hari libur, kami tetap turun untuk mengecek percobaan ini. Teknologi baru direct seeding ini bertujuan mengurangi biaya dan mempercepat tanam,” ucapnya.
“Kalau pertumbuhan tanamannya sebagus ini, kita bisa mencapai minimal 8 ton per hektare, syukur-syukur bisa sampai 10, 11, atau 12 ton,” tambah Mentan.
Teknologi itu juga akan diterapkan secara bertahap di berbagai daerah, terutama pada program cetak sawah dan optimasi lahan. Jika uji coba tersebut berhasil, lanjut Mentan, penerapannya akan diperluas untuk mendukung target swasembada pangan nasional.
“Ini kita terapkan nantinya di daerah – daerah cetak sawah dan Oplah (optimasi lahan) yang saat ini tengah kita kembangkan, kalau ini berhasil, kita akan mulai dari situ,” tutur Mentan.