Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo menegaskan bahwa Indonesia kini telah mencapai swasembada untuk komoditas telur dan ayam.
Arief menegaskan kebutuhan dalam negeri untuk protein hewani tersebut sudah bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri tanpa perlu impor.
“Telur dan ayam kita sudah swasembada. Cuma ini jarang disampaikan,” ujar Kepala Bapanas, Arief Prasetyo pada Selasa, (1/7/2025).
Pencapaian tersebut dinilai sebagai salah satu capaian penting dalam upaya ketahanan pangan nasional. Tak hanya berhenti di produksi, Arief mendorong agar hilirisasi produk pangan ditingkatkan agar nilai tambahnya bisa dirasakan langsung oleh peternak dan pelaku usaha kecil.
“Kita harus punya added value. Ayam jangan hanya dijual mentah, tapi bisa diolah jadi nugget, ayam ungkep, hingga produk RTE ready to eat,” jelasnya.
Arief pun mencontohkan bentuk hilirisasi pangan yang bisa membuka peluang bisnis nyata. Ia menyebut RT di wilayahnya kini menjual ayam geprek yang laku hingga 150 porsi per hari dengan harga Rp20 ribu per porsi.
“Itu artinya marginnya juga lebih besar, dan peternak bisa dapat income lebih,” tuturnya.
Lebih lanjut, Arief menekankan bahwa sektor pangan memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Bahkan di tengah kondisi sulit seperti PHK atau tantangan ekonomi, usaha berbasis pangan bisa menjadi solusi.
“Yang kena PHK nggak usah khawatir. RTE bisa dikembangkan. Lele juga bisa dimarinasi, divakum, dijual beku. Ini bisa memberdayakan ibu-ibu sekitar juga,” tandasnya.
Dengan capaian swasembada dan dorongan hilirisasi ini, Bapanas menargetkan agar pangan Indonesia tidak hanya cukup dari sisi jumlah produk atau kuantitas, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Arief optimistis sektor pangan akan terus tumbuh selama ada dukungan kebijakan dan kemauan untuk berkembang di tingkat masyarakat.