Duka belum usai pasca ambruknya musala di pondok pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Namun di balik reruntuhan itu, polisi mulai menelusuri jejak hukum yang mungkin menjerat para pihak yang diduga lalai dalam pembangunan. Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas runtuhnya rumah ibadah yang menelan korban jiwa ini?
Polisi terus mendalami kasus ambruknya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo. Penyidik menyorot proses pembangunan yang diduga tak memenuhi standar keselamatan. Setiap pihak mulai dari penggagas proyek hingga pemberi izin tak akan lepas dari pemeriksaan hukum.
Menurut Abdul Malik, salah satu pengamat hukum di Surabaya mengatakan, jika pembangunan itu di wilayah pondok, maka pihak pondok harus tahu dan bertanggung jawab. Namun jika ada pihak ketiga atau kontraktor, penyidik harus memeriksa siapa yang merancang dan mengawasi proyek itu.
Namun jika pembangunan tersebut merupakan proyek pihak ketiga, penyidik akan memeriksa secara mendalam pihak yang terlibat, dari bestek, spesifikasi material, hingga pengawas lapangan. Seluruhnya akan ditelusuri untuk menentukan unsur kelalaian dan pidana.
“Jika pembangunan itu di wilayah pondok/ maka pihak pondok harus tahu dan bertanggung jawab. namun jika ada pihak ketiga atau kontraktor, penyidik harus memeriksa siapa yang merancang dan mengawasi proyek itu. namun jika pembangunan tersebut merupakan proyek pihak ketiga, penyidik akan memeriksa secara mendalam pihak yang terlibat. dari bestek, spesifikasi material, hingga pengawas lapangan, seluruhnya akan ditelusuri untuk menentukan unsur kelalaian dan pidana,” ungkap Abdul Malik, Pengamat Hukum Surabaya, Jumat (10/10/2025).
Lebih lanjut Abdul Malik menambahkan, polisi juga membuka kemungkinan pemeriksaan terhadap pihak pesantren, tergantung laporan dan bukti yang masuk. Sebab dalam setiap proyek pembangunan ada penanggung jawab lapangan dan pimpinan yang harus mengawasi setiap tahap pekerjaan. Menurut Abdul Malik, pertanyaan besar pun menggantung, mengapa proyek pembangunan tempat ibadah bisa segini rentannya dan siapa yang harus menanggung akibatnya.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga, bahwa pembangunan fasilitas umum tak cukup dengan niat baik saja. Keselamatan harus menjadi prioritas, agar tak ada lagi korban jiwa yang terenggut di bawah reruntuhan bangunan yang harusnya tempat beribadah.