Kekeringan yang melanda Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kini kian meluas bahkan sawah di Dusun Cambaya, Desa Bontobahari mulai mengering, juga retak dan sumur tadah hujan yang merupakan akses satu-satunya air bersih warga mulai mengering.
Akibat musim kemarau yang melanda Kabupaten Maros sejak dua bulan terakhir, ratusan warga di wilayah itu mengalami kekeringan, sebab sebagian area persawahan di dusun ini mulai mengering juga retak bahkan sumur tadah hujan yang merupakan akses satu satunya air bersih warga mulai mengalami penurunan kuantitas secara drastis.
Bahkan saat ini sudah bercampur dengan lumut dan sampah.
“Tidak dimasak (minum), untuk mencuci dan mandi,” ujar salah seorang warga, Suriani, Rabu (7/8/2024).
Warga di Dusun Cambayya ini juga harus menempuh jarak berkilo-kilo meter demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari hari seperti mandi dan mencuci.
Sedangkan untuk air minum, warga merogoh kantong untuk membeli air galon.
Air yang tersisa di sumur tadah hujan hanya bertahan hingga 30 hari kedepan. Jika sumur tadah hujan mulai mengering, warga terpaksa membeli air seharga Rp 5.000 per 3 jeriken.
Warga juga biasa mencari sumber air di desa tetangga yang masih tersisa dengan menempuh jarak puluhan kilometer.
Diketahui bahwa Dusun Cambayya yang dihuni ratusan warga ini merupakan langganan kekeringan ekstrem. Tiap tahun warga merasakan sulitnya air bersih jika musim kemarau tiba.
Warga berharap pemerintah dapat bekerja nyata atas masalah kekeringan yang tiap tahun terjadi di wilayahnya.
“Semoga ada bantuan ke sini,” tandasnya.