HomeBISNISIndonesia Mau Kembangkan BBM dari Komoditas Aren

Indonesia Mau Kembangkan BBM dari Komoditas Aren

Indonesia saat ini tengah melakukan kajian pengembangan bioetanol dari komoditas aren. Nantinya, produksi bioetanol dari aren, akan digunakan untuk campuran bahan bakar minyak (BBM), layaknya program B50 pada solar yang dicampur dengan crude palm oil (CPO).

Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, pihaknya sebagai badan usaha yang bergerak pada bisnis minyak dari hulu hingga hilir, mendukung upaya pengembangan bioetanol dari berbagai macam komoditas. “Gula aren iya ada kajian (untuk pengembangan etanol)” ungkap Simon di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, (10/11/2025).

Menurut Simon, pengembangan bioetanol sangat perlu dilakukan di dalam negeri. Lantaran, Indonesia merupakan negara yang potensinya sangat besar, karen produk atau komoditas seperti singkong, tebu, ubi, hingga aren mampu diolah menjadi bioetanol.

Saat ini, lanjut Simon, diversifkasi energi memang sedang digencarkan. Indonesia tak ingin hanya bertumpu pada energi-energi yang berbasis fosil.

Sebagai informasi, Pertamina saat ini telah memiliki produk bernama Pertamax Green 95. Produk tersebut diklaim lebih ramah lingkungan, karena memiliki nilai oktan sebesar 95, dan memiliki campuran bioetanol sekitar 5 persen.

Simon tak menutup kemungkinan, bioetanol dari aren nantinya akan digunakan untuk produksi Pertamax Green. “Nanti kita coba ya. Tentunya dari ini proyek-proyek yang sudah dikerjakan, itu memang memungkinkan,” bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, bos Pertamina itu juga menegaskan pihaknya siap mendukung program Kementerian ESDM yang akan mewajibkan BBM di dalam negeri dicampur dengan etanol.

PT Pertamina bersama stakeholder terkait memastikan siap mematangkan kesiapan infrastruktur dan teknologi, sejalan dengan adanya terobosan Pemerintah melalui Kementerian ESDM yang akan mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran etanol sebesar 10 persen, alias E10.

Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, pihaknya tentunya mendukung upaya-upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi dan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Meski demikian, Simon juga membeberkan, kesiapan penerapan E10 tidak hanya dilakukan oleh badan usaha penyalur BBM, namun juga para pelaku di industri otomotif.

“Keputusan pemerintah bersama dengan seluruh stakeholders, dan yang terpenting adalah penyiapan infrastruktur, begitu juga dari kita sisi teknologi kita dorong,” ungkap Simon.

Dirinya meyakini, dampak pengembangan etanol atau bioetanol, tentu memiliki dampak yang baik untuk domestik. Pertama, penggunaan bahan bakar yang lebih ‘hijau’ tentu akan berkontribusi dalam menekan emisi nasional.

Kedua, dengan adanya program penggunaan campuran bioetanol, tentu akan mengurangi volume impor BBM Indonesia. Diketahui, konsumsi BBM domestik sangat besar, dan masih bergantung terhadap impor.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku cukup optimis perihal program pengembangan bioetanol di Tanah Air. Terlebih raksasa otomotif asal Jepang telah mengutarakan minatnya untuk berinvestasi di dalam negeri.

“Jadi sambil berjalan lah, semua kan kebijakan ini yang menyangkut masyarakat banyak, tentunya harus sama-sama kita kaji dan kita dorong,” pungkasnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments