Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut 100 gudang Bulog akan dibangun di daerah yang belum memiliki gudang termasuk daerah terdepan, terluar dan terpencil. Kapasitas gudang dibangun sesuai dengan potensi pertanian di daerah yang akan dibangun.
“Kita prioritaskan juga gudang-gudang yang di 3T, terdepan, terluar, dan terpencil. Ini kayak contoh di Nias Selatan, di Morotai dan lain sebagainya itu kan perlu gudang-gudang tersebut,” kata Rizal usai menandatangai Surat Keputusan Bersama (SKB) Pembangunan Infrastruktur 100 Gudang Baru, Selasa (11/11/2025).
Dia menilai pembangunan gudang baru dilakukan untuk memastikan cadangan pangan dan dapat meningkatkan efisiensi kos yang dikeluarkan. Kapasitas gudang ya g akan dibangun juga bervariasi mulai dari paling kecil 1000 ton, 3500 ton hingga 7000 ton.
Untuk menentukan kapasitas pihaknya akan melakukan berkoordinasi dengan kementerian Pertanian sebagai pihak yang mengetahui lokasi lumbung pangan.
“Proyeksinya dia sumber lumbung pangan atau tidak. Kalau mereka lumbung pangan besar berarti kita bikinkan gudang yang besar. Tapi kalau dia tidak punya lumbung pangan, ya mohon maaf nanti hanya gudang kecil saja,” jelasnya.
Selain itu, sebagian gudang akan dilengkapi fasilitas Rice Milling Unit (RMU), dryer, dan sarana pendukung lainnya, terutama di daerah sentra produksi pangan. Sementara gudang di daerah non-sentra seperti kepulauan hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan.
Rizal menjelaskan, percepatan pembangunan akan didukung melalui peraturan presiden (perpres) yang bersifat lex spesialis agar prosesnya berjalan cepat. “Harapannya, saat panen raya 2026 nanti, gudang-gudang ini sudah bisa digunakan untuk menampung hasil panen,” ujarnya.
Terkait tahapan pembangunan, Rizal menegaskan pihaknya akan memulai secepat mungkin menyesuaikan dengan kondisi cuaca di lapangan. Bulog juga akan melibatkan sejumlah BUMN karya dalam proyek tersebut.
“Intinya, begitu cuaca bagus, langsung kita mulai. Kita pengennya 100 gudang itu bisa selesai dalam setahun,” tambahnya.