Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca-bencana Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat memfokuskan pembersihan lumpur di sejumlah wilayah prioritas, terutama Aceh Tamiang.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Muhammad Tito Karnavian mengatakan, bencana hidrometeorologi berdampak pada tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan total 52 kabupaten/kota terdampak.
“Yang kita fokus ada, tanpa menafikan daerah lain, dari 52 kabupaten kota itu,” kata Tito setelah acara pelepasan taruna Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pemulihan pasca-bencana di Jakarta, Rabu.
Tito menjelaskan, di Aceh pihaknya memetakan tujuh daerah prioritas, dengan penekanan pada wilayah dataran rendah.
Fokus di wilayah dataran rendah dilakukan karena endapan lumpur menutup akses permukiman dan fasilitas umum, sehingga menghambat aktivitas warga dan pemulihan layanan dasar.
“Lowland-nya (dataran rendah) itu ada empat terutama di Aceh Tamiang, kemudian Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya,” ujarnya.
Ia mengatakan, karakter penanganan di dataran rendah berbeda karena pembersihan harus dilakukan masuk ke gang dan rumah warga sehingga membutuhkan tenaga manusia.
“Ini harus door-to-door, man-to-man masuk ke sana,” ungkap dia.
Tito menyebutkan, penambahan pasukan diperlukan agar pemulihan lebih cepat, termasuk dari sekolah kedinasan yang dinilai memiliki ketahanan fisik.
Dalam penguatan pasukan pemulihan, sebanyak 1.142 taruna Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dilepas untuk membantu percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana di wilayah terdampak.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Menteri KKP dan jajaran karena telah mengirimkan 1.142 taruna. Ini sangat berharga terutama untuk masyarakat di Aceh,” tutur dia.
Ia meminta taruna dan personel yang diterjunkan untuk tidak membebani pemerintah daerah dan menyiapkan logistik secara mandiri, termasuk dapur lapangan.