Ratusan warga Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tangsel, Selasa. Dalam aksi tersebut, warga membawa tumpukan sampah serta keranda mayat sebagai simbol matinya kepedulian wakil rakyat terhadap penderitaan warga akibat persoalan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.
Salah satu warga terdampak, Ida, yang menderita asma akut, mengungkapkan bahwa bau menyengat dari tumpukan sampah sangat berdampak pada kesehatan dirinya dan warga sekitar, khususnya di RT 001 RW 04.
“Aksi ini kami lakukan karena bau sampah yang setiap hari kami hirup sangat mengganggu, terutama bagi saya yang punya asma akut. Bau ini sering memicu kambuhnya penyakit saya hingga beberapa kali harus dibawa ke IGD,” ujar Ida.
Ia menambahkan, kompensasi sebesar Rp250 ribu per bulan yang diberikan dinilai tidak sebanding dengan dampak kesehatan yang dialami warga. Setiap hari, ia harus menggunakan masker untuk menghindari bau menyengat yang berasal dari tumpukan sampah.
“Wilayah kami sangat terdampak karena TPA Cipeucang berada di RW kami, termasuk RW 04 dan RW 06. Sampah sekarang juga jarang diangkut, karena satu wilayah hanya mendapat dua gerobak dan itu pun hanya dua hari sekali,” jelasnya.
Menurut Ida, kondisi tersebut telah berlangsung hampir sepuluh hari. Akibatnya, sampah menumpuk di depan rumah dan sepanjang jalan, bahkan dipenuhi belatung yang menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan yang lebih serius.
Sementara itu, Ketua RT 08/02 Kel. Serpong Nana Heriyana, menegaskan bahwa aksi yang dilakukan warga merupakan gerakan moral dan berlangsung secara damai tanpa unsur anarkis.
“Aksi ini sudah kami kondisikan selama satu bulan. Ini murni gerakan masyarakat Serpong, tanpa ada titipan dari pihak mana pun. Kami sudah sangat sabar menunggu, tetapi kondisi Cipeucang semakin parah dengan bau sampah yang menyengat dan penumpukan yang terus terjadi,” kata Nana.
Ia menjelaskan, sebagian peserta aksi membawa sampah sebagai bentuk protes untuk menunjukkan bahwa dalam hitungan hari saja, penumpukan sampah sudah sangat mengganggu kehidupan warga. Sementara keranda mayat yang dibawa menjadi simbol matinya rasa nurani para pemimpin dan anggota dewan yang dinilai abai terhadap persoalan lingkungan.
“Peserta aksi membawa sampah dan keranda mayat sebagai bentuk protes keras terhadap anggota DPRD yang selama ini terdiam,” tegasnya
Dalam aksi tersebut, ratusan warga sempat menduduki Gedung DPRD Tangsel dan menuntut kepastian sikap serta langkah konkret dari para anggota dewan terkait penanganan krisis sampah yang terjadi di Kota Tangerang Selatan.
Untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan, aparat gabungan dari TNI, Polres Tangerang Selatan, serta Satpol PP disiagakan di lokasi aksi. Aksi unjuk rasa berlangsung tertib hingga warga menyampaikan seluruh tuntutannya kepada pihak DPRD.