Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meminta seluruh Pemerintah Daerah untuk dapat menggenjot pendapatan asli daerah (PAD), salah satu upayanya melalui mengoptimalkan peran dunia usaha dan investasi yang masuk ke daerahh.
Untuk merealisasikan hal tersebut, Tomsi mengungkapkan, hal yang harus dilakukan adalah mempermudah perizinan. Daerah juga harus menghadirkan iklim usaha yang kondusif.
“Mendorong peran swasta melalui kemudahan perizinan. Peran daerah perlu menghadirkan iklim usaha yang kondusif dengan memberikan kemudahan, kepastian, serta transparansi dan percepatan dalam perizinan,” Tomsi Tohir.
Dengan demikian, lanjut Tomsi, hal ini akan mendorong tumbuhnya sektor swasta, memperkuat investasi, serta menciptakan lapangan kerja baru.
Kemendagri mendorong daerah-daerah untuk mengecek kembali seluruh persyaratan perizinan yang memang bisa dipangkas, dikurangi, serta dipercepat waktunya. Dan ini akan tentunya membantu percepatan daripada pelaksanaan investasi tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Kemendagri mengungkapkan, kondisi perekonomian domestik disebut relatif stabil. Bahkan jika dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga dan maju.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir mengungkapkan, hal ini terlihat dari sejumlah indikator perekonomian, seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi nasional.
Tomsi Tohir mengungkapkan, untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 mencapai angka 5,04 persen. Di tingkat regional Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi domestik tertinggi keempat. Sementara jika dilihat dari kumpulan negara anggota G20, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di posisi ketiga.
“Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan ketiga tahun 2025 tumbuh sebesar 5,04 persen, menempati peringkat 45 dari 185 negara di dunia dan peringkat ketiga dari 24 negara anggota G20,” ucap Tomsi.
Kemudian, dari sisi realisasi inflasi, tercatat cenderung masih rendah yakni di bawah 3 persen secara year-on-year (YoY). Berdasarkan data 3 bulan terakhir contohnya, inflasi di angka 2,65 persen pada September 2025, 2,86 persen pada Oktober 2025, dan 2,72 persen pada November 2025.
Tomsi melanjutkan, dari 186 negara di dunia, rata-rata peringkat inflasi di Indonesia tercatat berada di peringkat ke-86.
Tomsi membeberkan, dengan adanya capaian yang dimaksud, tentu menunjukkan kinerja ekonomi Indonesia masih bertahan cukup baik. Mengingat, Indonesia merupakan negara besar, yang secara jumlah penduduknya sangat banyak, dan kondisi geografis yang lebih menantang dibandingkan negara lain.
“Berkaitan dengan inflasi, tentu tidak bisa disamakan dengan negara yang kecil-kecil. Kita dengan penduduk negara terbesar keempat dengan bentangan dari Sabang sampai Merauke, itu merupakan sesuatu tantangan,” pungkasnya.