Konflik di Timur Tengah antara Israel-Iran masih berlanjut dan belum menemui titik terang. Memanasnya gesekan geopolitik itu menjadi salah satu sentimen yang menyebabkan harga minyak mentah dunia meningkat.
Adapun, harga minyak dunia kembali naik pada awal perdagangan Rabu (18/6/2025), memperpanjang reli sebelumnya yang mencatat lonjakan lebih dari 4 persen. Tercatat, harga minyak Brent naik menjadi 76,64 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menjadi 75,07 dolar AS per barel.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengungkapkan, melonjaknya harga komoditas minyak mentah akan memiliki efek domino terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta nilai tukar rupiah.
“Dampaknya tidak hanya terhadap harga minyak saja. Dampak ikutannya itu mempengaruhi inflasi, melemahnya rupiah, dan juga pertumbuhan ekonomi yang tidak tersampai,” ungkap Fahmy, Rabu (18/6/2025).
Ia memaparkan, perang kawasan Timur Tengah memang sentimennya sangat berpengaruh terhadap harga minyak. Hal ini dikarenakan Timur Tengah merupakan salah satu produsen utama sekaligus jalur emas komoditas minyak dunia.
Fahmy mengungkapkan, apabila konflik terus terjadi maka harga minyak akan terus terkerek naik. Tak tanggung-tanggung, potensinya dapat menembus angka 100 dolar AS per barel.
Bahkan, Fahmy menyebut International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan harga minyak dunia bisa saja mencapai angka 130 dolar AS per barel.
Dirinya meminta seluruh pihak, utamanya pemerintah untuk menyusun langkah untuk memitigasi adanya potensi dari dampak tersebut.
“Kalau perang, eskalasi perang tadi kemudian meluas, ini pasti akan mengganggu pasokan minyak. Apalagi perang di sekitar Teluk Hormuz, yang itu merupakan lalu rintas sepelincin dari sepertiga minyak dunia yang lewatnya di situ,” papar Fahmy.
“Ini berpotensi menimbulkan krisis global, termasuk Indonesia,” pungkasnya.