Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong kemandirian energi. Salah satu upaya yang tengah dilakukan pemerintah saat ini adalah pembangunan industri liquefied petroleum gas (LPG) di berbagai lokasi untuk mengintervensi angka impor.
“Dalam rangka mengurangi impor gas kita mau tidak mau kita akan dorong hilirisasi untuk membangun industri LPG,” kata Bahlil.
Bahlil menggambarkan, stok gas pada tahun 2026 dan 2027 akan surplus karena sumur-sumur yang ada bakal berproduksi. Namun, katanya, untuk konsumsi LPG di Indonesia masih tergolong besar.
Adapun konsumsi LPG Indonesia mencapai 8 juta ton per tahun, sedangkan produksi LPG Indonesia jauh di bawah angka tersebut.
“LPG kita konsumsinya 8 juta ton per tahun. Nah dari 8 juta itu industri kita hanya 1,7 juta ton, sisanya impor 6 sampai 7 juta kita impor,” tutur Bahlil.
Oleh karena itu, kata Bahlil, mendorong pembangunan industri LPG merupakan suatu keharusan demi menekan angka impor dan mewujudkan kemandirian energi.
Ketua Umum Partai Golkar itu menyebut, kemandiran energi merupakan salah satu amanah yang disampaikan presiden terpilih Prabowo Subianto.
Dia menambahkan, dalam rangka hilirisasi untuk membangun industri LPG bahan baku yang dibidik adalah propana (C3) dan butana (C4). Bahan baku ini didorong untuk meningkatkan produksi LPG.
“Sudah barang tentu bahan bakunya adalah C3 dan C4 daripada gas. Nah kita lagi mendata kurang lebih hampir sekitar 1,8 juta yang kita dorong hilirisasi sehingga dengan demikian (total) sudah hampir 3,6 juta sampai 3,7 juta dari bahan yang kita kelola untuk menjadi LPG,” ucap Bahlil.