HomeEKONOMIPLN Manfaatkan Bonggol Jagung Jadi Bahan Bakar PLTU

PLN Manfaatkan Bonggol Jagung Jadi Bahan Bakar PLTU

PT PLN (Persero) terus berkomitmen untuk mendukung pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 20% pada tahun 2025, melalui pengembangan hutan energi di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satu langkah penting dalam inisiatif ini adalah penerapan teknologi co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Taliwang, yang memanfaatkan bahan baku biomassa sebagai pengganti sebagian batubara.

Proyek hutan energi pertama kali diluncurkan oleh PLN pada November 2022, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB. Di atas lahan seluas dua hektar di Desa Kertasari, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, PLN menanam sebanyak 15.000 pohon yang ditargetkan siap dipanen untuk bahan baku biomassa pada tahun depan. Pohon-pohon tersebut meliputi lamtoro, gamal, dan turi, yang dipilih karena kandungan kalori yang tinggi, cocok untuk substitusi batubara.

“Kami telah memulai inisiatif hutan energi dengan menanam 15.000 pohon. Harapannya, pohon-pohon ini akan menjadi alternatif berkelanjutan untuk menggantikan batubara dalam proses co-firing di PLTU Sumbawa.” Ungkap Manager PLTU Sumbawa Addien Wahyu Wiranata, Senin (14/10).

PLN memilih pohon lamtoro, gamal, dan turi karena kadar kalorinya yang cukup tinggi, yaitu sekitar 3.600 kalori. Ini hampir mendekati kebutuhan pembakaran boiler PLTU Sumbawa, yang berada pada kisaran 3.800 hingga 4.200 kalori. Uji coba terhadap bahan baku kayu ini juga telah dilakukan di beberapa PLTU lain, menunjukkan hasil yang memadai untuk mendukung proses co-firing.

“Ketiga jenis pohon ini sangat cocok sebagai bahan bakar co-firing, dan kami terus mengupayakan peningkatan jumlah pohon serta lahan hutan energi agar suplai bahan baku tetap stabil,” jelas Addien.

Dalam waktu dekat, PLN merencanakan perluasan hutan energi di lahan baru seluas 4 hingga 6 hektar, dengan dukungan dari Pemprov NTB yang telah melakukan survei potensi lahan di Pulau Sumbawa. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan suplai biomassa guna memenuhi target co-firing yang semakin tinggi.

“Lahan yang saat ini digunakan baru dua hektar sebagai proyek percontohan, namun kami berencana memperluas hingga 6 hektar. Dinas terkait sudah melakukan survei terhadap lahan potensial, baik itu hutan rakyat maupun milik pemerintah, untuk bisa kami jadikan hutan energi,” kata Addien.

Selain mengandalkan hutan energi, PLN juga memanfaatkan limbah pertanian seperti bonggol jagung dan woodchip sebagai bahan baku biomassa untuk proses co-firing. PLN telah memetakan potensi pasokan bonggol jagung dan woodchip di berbagai wilayah Sumbawa Barat, khususnya di sentra penghasil jagung.

“Kami terus memperluas jaringan pemasok biomassa, seperti bonggol jagung dan woodchip, untuk memenuhi kebutuhan PLTU Sumbawa. Harapannya, pada tahun 2024, kontribusi co-firing akan mencapai lebih dari 20%,” ujar Addien.

Kapasitas PLTU ini mencapai 2×7 MW, dengan produksi energi sebesar 1.022 MWh menggunakan 1.948 ton biomassa. Jenis biomassa yang digunakan meliputi serbuk kayu, woodchip, dan bonggol jagung.

“PLN pusat telah mengarahkan agar PLTU yang masih menggunakan bahan bakar fosil beralih ke biomassa. Target kami adalah mengurangi penggunaan batubara hingga 20% pada tahun 2025, dan pada 2030 bahan bakar fosil akan mulai dihapuskan.” Tegas Addien.

Teknologi co-firing adalah metode di mana bahan bakar alternatif, seperti biomassa atau limbah organik, digunakan bersama batubara dalam proses pembakaran di PLTU. Dengan teknologi ini, PLN berupaya mengurangi emisi karbon dan dampak negatif terhadap lingkungan yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.

PLN berharap, dengan pengembangan hutan energi dan pemanfaatan biomassa, Sumbawa dapat menjadi model keberlanjutan energi terbarukan di Indonesia, khususnya dalam mendukung target bauran energi EBT sebesar 20% pada tahun 2025.

Salah seorang petani jagung di Desa Kertasari, Jamaludin, juga mendukung inisiatif ini. Ia mengatakan, selain bertani jagung dan rumput laut, masyarakat setempat siap berkontribusi dalam penyediaan bonggol jagung untuk kebutuhan biomassa PLTU.

“Bonggol jagung dari lahan kami akan didistribusikan ke PLN untuk mendukung program co-firing. Kami mendukung penuh inisiatif ini,” kata Jamaludin.

Dengan sinergi antara PLN, pemerintah, dan masyarakat, program Co-Firing ini menjadi langkah strategis untuk mencapai masa depan energi yang lebih hijau dan mendukung target Net Zero Emission. PLN berkomitmen untuk terus berinovasi dalam menciptakan solusi energi yang ramah lingkungan demi kesejahteraan generasi mendatang.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments