Kementerian Sosial bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 527 ribu warga DKI Jakarta masih berada di Desil 1, yakni kelompok 10 persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Data ini diambil dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang kini menjadi rujukan tunggal kebijakan sosial ekonomi nasional.
Plt Kepala Pusdatin Kemensos Joko Widiarto menjelaskan, melalui DTSEN, pemerintah kini dapat memetakan sebaran masyarakat rentan secara lebih presisi dari tingkat provinsi hingga desa.
“Provinsi Jakarta ada 10,7 juta individu, yang berada di Desil 1 sebanyak 527 ribu. Sementara di Jakarta Pusat, dari total 1 juta individu terdapat 59.621 penduduk miskin. Kemudian di tingkat kecamatan, seperti Senen ada lebih dari 8 ribu warga Desil 1, sementara di Kelurahan Kenari sekitar 456 orang,” papar Joko dalam Rapat Koordinasi Pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Bahkan, Mensos Gus Ipul mengungkap adanya penerima bantuan sosial (bansos) yang tercatat menerima manfaat hingga 18 tahun berturut-turut. Fenomena ini, menurutnya, menunjukkan perlunya percepatan pemutakhiran data penerima manfaat agar bantuan sosial benar-benar tepat sasaran. Kondisi ini menjadi salah satu alasan diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2024 tentang Percepatan Penguatan Basis Data Tunggal Program Perlindungan Sosial.
Melalui Inpres tersebut, pemerintah ingin memastikan seluruh program bantuan menggunakan satu sumber data, yakni Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang dikelola BPS.
“Kita tidak bisa mengentaskan kemiskinan dengan intuisi. Kita harus melakukannya dengan data, dan data yang akurat,” tegasnya.